Postingan

Menampilkan postingan dengan label Saya Bercerita

Neraca

Aku bertanya-tanya. Jika benar bahwa sesosok diri adalah representasi dari sebuah neraca yang terdiri dari id, ego, dan superego, maka diri seperti apakah aku saat ini? Adakah aku sudah berhasil menjadi diri yang seimbang, atau masih berat sebelah pada satu sisi? Kalau belum seimbang, sisi manakah yang lebih dominan? Dan selama sisi tersebut mendominasi, lebih banyak mendatangkan keuntungan atau malah merugikan kah? Aku tak benar-benar yakin dalam diriku ini tentang mana yang id dan mana yang superego. Tapi jika diingat bahwa aku kerapkali kewalahan mengatasi rasa bersalah, aku menduga bahwa aku sedang dalam dominasi superego. Bisa jadi. Atau malah itu adalah id yang mengelabui diri yang bertindak seolah-olah itu dorongan superego. Ah, mulai lagi. Begitu banyak lamunan yang datang tiap kali aku tak berbuat apa-apa. Besar inginku menangkapnya satu per satu dan merapikannya, memenjarakannya dalam aksara-aksara lalu menyusunnya dalam arsip-arsip memori, tapi selalu saja gagal. Lamunan-...

Trigger(ed)

Cinta. Aku penasaran, mengapa bisa segala hal berbau romansa tak pernah tuntas dalam tahap perkembangan manusia. Seolah ada saja cerita tak terduga tentangnya bahkan di setiap jenjang usia. Pernah dalam sebuah seminar, seorang pembicara menyatakan bahwa romansa orang lansia, dalam kasus di sebuah panti jompo, tak kalah rumit dan lebay dari percintaan remaja. Amboi. Adakah ini terkait dengan sesuatu yang menyertainya, yang selalu dianggap tabu itu—sex, yang pada dasarnya adalah kebutuhan dasar manusia? Kerasnya proses evolusi yang dijalani manusia membuat segala hal yang menyangkut upaya bertahan hidup dan melestarikan kelompok tak bisa lagi didapatkan dengan cara terang-terangan, semua harus melalui prosedur, yang menurutku bisa dibilang dengan menyelundupkan niat, tujuan, atau keinginan utama dengan perilaku-perilaku yang dapat diterima dalam kesepakatan bersama tertentu. Seleksi alam tidak lagi tentang yang paling kuat yang bertahan, tetapi yang paling manipulatiflah yang menang. ...

Hana

23 Juli 2020, pukul 05.21 pagi. Dari aplikasi Stellarium, ku tahu bahwa bintang terang yang tengah naik dari langit timur itu adalah Venus. Ahaha iya, dia bukan bintang. Dia planet. Tapi otak kita terbiasa mengasosiasikan semua benda berkelip kecil di langit gelap sebagai bintang. Tak masalah. Aku baru saja selesai berlari-lari kecil, dan kini aku tengah berjalan santai menuju rumah. Aneh barangkali, baru jam segini tapi sudah di jalan pulang. Hehe, aku hanya berlari selama 5 menit saja sih. Aku masih terjebak dalam stigma bahwa tidak elok anak perempuan malah keluyuran pagi-pagi. Stigma sialan memang, lama aku jadi malas bergerak karena ini. Ah, aku ingin mengambil jalan pulang yang sedikit lebih panjang, sambil menyelesaikan celotehku ini. Hehe iya, aku mengetik sambil berjalan. Rute yang selalu kulalui adalah sebuah jalan kecil yang sangat panjang menuju desa tetangga, yang di kiri kanan jalan adalah area persawahan. Sangat sepi di sini, itulah mengapa aku berani lewat sini. Ja...

Helai Erigeron

Akhir-akhir ini aku sedang suka dengan band musik baru dari Jepang yang namanya YOASOBI. Dengan dua personil yaitu Ikura sebagai vokalis dan Ayase sebagai produser musiknya, band ini membawakan lagu-lagu yang mereka ciptakan berdasarkan cerita-cerita pendek di situs Monogatary. Inilah salah satu yang membuatku menyukai lagu-lagu mereka, selain karena lagunya enak didengar, mereka juga memainkan storytelling yang apik dalam lagunya.  Yang paling melejit dari karya mereka adalah yang berjudul Yoru Ni Kakeru, lagu debut mereka. Tapi aku suka lagu yang lainnya, terutama yang berjudul Halzion, dan satu lagi yang baru dirilis hari ini, Tabun.  Di Halzion, aku menemukan diriku yang terus lari dari perasaanku sendiri. Kepada seseorang yang, kurasa, kini sudah bersama seseorang yang lain. Sudah menemukan bahagianya, barangkali. Entah. Aku hanya merasa tidak patut saja jika aku merasa sakit atau sedih atas yang telah didapatkannya, tetapi perasaan itu memang tak mampu ditahan lagi....

Doa Fajar

Gambar
Seolah seperti Fatimah, aku menolak kedatangan beberapa pria demi menunggu datangnya Ali. Namun, siapalah aku jika dibandingkan dengan sang Az-Zahra yang menunggu sosok seperti Ali?  Kuharap, kamu tak berkecil hati terhadap penolakanku atas pria-pria itu. Semoga Allah berimu keberanian mendatangiku. Kan siapa tahu, barangkali saja kamu Ali yang kumaksudkan. Senin, 8 Ramadan 1440 H.

Does It Feel?

Ada masa di mana ketika lelah, untuk berkata bahwa sedang lelah saja tidak mampu. Rabu, 10 April 2019 Hari ini aku masuk kerja shift pagi, mulai pukul setengah tujuh pagi sampai jam tiga sore. Tetapi karena hujan aku menunda pulang hingga sekitar jam empat mungkin. Hari ini berjalan seperti biasa saja sebenarnya, ada yang mengesalkan seperti mendadak harus jaga konter hp dan stan thaitea sekaligus, padahal aku berencana ingin jaga konter sambil mengerjakan transkrip wawancara yang kulakukan kemarin. Saking kesalnya aku menumpahkan dalam sebuah twit: “Saya sedang badmood. Bolehkah saya tidak menjawab segala tanya yang ada? Kata teman saya lebih baik diam daripada marah soalnya.” Ada juga yang menyenangkan seperti tiba-tiba berpapasan dengan teman yang lama tidak bertemu saat menyeberang jalan. Ada juga yang membuat semangat, seperti seorang mutual di Twitter yang sedang mengajak mendirikan suatu komunitas sosial yang menangani isu bullying, yang kami namai Indonesia Melawa...

Denial

Entah apa istilah yang cocok untuk aku: pemalas tapi tidak nyaman kalau hanya berdiam diri saja, tetapi juga bukan orang yang aktif apalagi hiperaktif karena aku pada dasarnya kurang inisiatif untuk memulai. Dan lagi, walau aku suka bergerak, aku bukan orang yang gesit. Mungkin orang lain akan menilai kalau aku orang yang lamban kerjanya. Aku menyadari itu sih, salah satunya untuk membuat satu tulisan di blog. Satu tulisan bisa saja memakan waktu berhari-hari, berpekan-pekan, bahkan yang lebih parah berbulan-bulan (ada satu draft tulisan dari sejak berbulan-bulan yang lalu dan sampai sekarang belum aku lanjutkan). Yang membuat lama biasanya sih faktor mood, he he. Soalnya aku tipe orang yang suka menuruti apa saja yang aku rasakan. Jadi kalau suasana hati sedang baik ya dikerjakan, kalau tidak ya tinggalkan, selama hal itu tidak menyinggung atau berurusan orang lain.  Dan ya, aku tipe orang yang bisa dikatakan sulit untuk berhubungan dengan orang lain. Dikombinasikan dengan si...

Kelas Angkot (bag. 2)

(Untuk membaca cerita sebelumnya, silakan klik Kelas Angkot 1 ...)   Sepanjang sisa perjalanan aku tidak lagi banyak bercakap-cakap. Bapak sopir kembali fokus dengan kemudinya. Sesekali aku bercanda dengan bocah 8 bulan yang duduk di depan bersama ibunya. Di dalam angkot ini, aku merasa benar-benar sedang kuliah Psikologi Keluarga dan Gerontologi. Dedek bayi 8 bulan ini mengingatkanku pada teori perkembangan kognitif dari Piaget yaitu tahap sensorimotor, di mana anak baru mampu menggunakan seluruh inderanya secara refleks mengikuti apa saja stimulus yang ditangkap inderanya. Bagi anak usia 0-2 tahun, setiap stimulus yang datang adalah hal yang menarik. Pada tahap ini anak cenderung memperhatikan hal atau objek asing lebih lama. Seperti saat ini, dia memperhatikanku. Mungkin karena aku satu-satunya yang memperhatikan dia di angkot ini. Tiba-tiba aku ingin melakukan eksperimen kecil kepadanya. Kuambil sebuah gantungan kunci bertuliskan "Fakultas Psikologi Universitas Negeri...

Kelas Angkot (bag. 1)

9 April lalu adikku bungsu yang baru berusia 5 tahun berekreasi ke Jatim Park 2 atau JP2. Sama rombongan TK-nya sih, hehe. Rekreasi anak TK itu identik dengan..yup, orang tuanya pasti ikut mendampingi. Mamakku yang akhirnya memutuskan menemani perjalanan adikku.  Sebulan sebelumnya, aku langsung mengagendakan hari itu khusus untuk pergi ke JP2 setelah mendapat kabar bahwa TK adikku akan rekreasi ke sana. Malang ke Batu nggak jauh lah ya. Kapan lagi bisa ketemu Mamak tanpa harus menjamur di bus selama 7 jam? Apalagi hari itu hari Kamis dan aku memang tidak ada kuliah hari Kamis. Fix , agendakan!  Hihi, tumben ya aku bisa merencanakan agenda, padahal biasanya aku orang yang spontan yang kalau pengen apa langsung nyeloyor berangkat aja. Sungguh ini adalah suatu pencapaian besar dan harus diapresiasi, haha..  H-3, aku baru kepikiran. Btw aku mau naik apa buat sampai ke Batu? Mau minta tolong anter teman, eh malah pada full kuliahnya hari itu. Mau pinjam motor, b...

Menapak Langkah

Perempuan yang baik sungguh tak pernah menghendaki untuk menjejakkan kesan pada setiap hati laki-laki yang dikenalnya. Barangkali. Ia berlaku baik sebagaimana ia mengartikan kata baik itu sendiri. Tetapi laki-laki memang mudah terkesan pada perempuan yang demikian. Itu fakta, dan itu fitrah.  Tepat saat dia melewati wilayah kediaman seseorang yang dia kenali. Seorang laki-laki yang ia tahu pernah menempatkan namanya pada hatinya. Tiba-tiba ia kembali merasakan sensasi perasaan gelisah itu lagi. Tentang harus bagaimana selanjutnya ia harus berbuat. Memang laki-laki itu tak memberitahunya secara jelas bahwa ia menyukainya. Tetapi perempuan itu tahu. Sungguh bukan hal menyenangkan jika kamu dapat mengetahui sesuatu sebelum kamu diijinkan untuk mengetahuinya. Seakan kamu dituntut menyelesaikan masalah saat itu juga padahal masalah itu sebenarnya belum terjadi. Setidaknya, menyusun rencana solusi.   Ada yang mengganggu pikirannya. Jika laki-laki itu menyukainya, harus...

Terimakasih (Lagi)

Jika kamu melihatku selalu sibuk dengan duniaku, tak perlulah kamu kasihani aku Jika kamu melihatku berusaha lebih keras memacu diriku sendiri, janganlah coba tumbuhkan inginmu untuk kembali mengajari tentang cinta Jika kamu melihat upayaku melapangkan diri sendiri atas semua kecewaku, maka tak perlu lagi kamu merasa bersalah atas diriku Dan jika, kamu melihat semua perubahan pada diriku yang kini, kuberitahu, jangan percaya diri bahwa aku melakukannya karenamu Waktu telah berjalan, entah cepat entah perlahan (sesuka hatimu mengartikannya) Membersamai jejak mengulur gulungan jarak dan kesempatan Membuat kamu kini hanya menjadi bagianku yang telah lalu, saja Aku tak lagi dendam, dan dengan lapang hati kini kunyatakan aku telah berdamai Namun demi jarak dan kesempatan yang telah terulur membentang menjauh Tempatmu bagiku kini di jauh di belakangku, tak akan lagi nampak siapa dirimu di mataku Bahkan jika kamu memanggil, aku hanya dapat menoleh dan tersenyum Tidak untuk mengha...

Quiet (3)

Hai. *krik-krik* Ah langsung saja. Masih seputar usahaku dalam men-terapi diri sendiri. Quiet. Yah, sepertinya aku semacam kecanduan melakukan ini. Akhir-akhir ini aku jadi teringat tentang masa kecilku. Aku dilahirkan di situasi yang cukup banyak konflik. Bukan penuh konflik, hanya cukup banyak. Di lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang temperamental, semua orang selalu menaruh pandangan curiga satu sama lain. Masyarakat yang kurang sehat. Alhamdulillah, masih ada yang bisa kusyukuri: lingkunganku masih memiliki rasa sadar akan kebutuhan religius, tidak seperti kampung tetangga yang, menurutku, mengalami banyak kerusakan di masyarakatnya. Sewaktu SD dulu, mayoritas teman sekelasku (bahkan hampir seluruh siswa di SD-ku) adalah dari kampung tetangga itu. Jadi setiap hari aku sudah terbiasa mendengar mereka berkata-kata kotor dan kasar bahkan menyaksikan kenakalan-kenakalan fisik yang mereka lakukan. Kalau di antara mereka absen alias bolos sekolah, semua warga sekolah ...

"Kearab-araban"?

Beberapa hari yang lalu sempat kesel sama seorang mas yang ngechat “ Kamu kenapa ya suka dari luar Indonesia. Apalagi yang kearab-araban? ” Apalagi pas mood lagi nggak baik. Mungkin bener kata Na, kalau aja mas itu ngomong gitu langsung di depanku mungkin udah beneran kujitak kepalanya. Kesel sih, ending nya mesti nyangkut-pautin dengan nasionalisme dan identitas bangsa. And then tangan dan otak gabutku mendorongku untuk menulis ini. Nggak bagus sih, namanya juga celotehan orang yang lagi badmood. Oke, selamat membaca, sambil dinikmati hidangan paginya yang ala kadarnya.  *** Inget dulu jaman masih SD, suka banget sama buku-buku tentang Walisongo, apalagi sama filosofi tembang-tembang karya mereka. Beliau-beliau ini nggak bodoh loh , tapi keren menurutku. Mereka paham konsep " hijrah by process " dan menerapkannya dalam dakwahnya, agar pengetahuan tentang Islam yang awalnya asing bisa diterima sama masyarakat awam. Menghilangkan kebiasaan masyarakat yang udah mend...